Assalamua’alaikum wr.wb, bagaimana kabarnya
hari ini kawan? Mudah-mudahan kita tetap dalam lindungan Allah SWT.
Ramadhan segera tiba, sudah siapkah kita menyambutnya? Pastinya kita berharap, kita semua sudah siap menyambut dan melaksanakan serangakaian ibadah dibulan Ramadhan pada Tahun ini, baca pada postingan blog ini sebelumnya terkait persiapan apa saja dalam menyambut Ramadhan...
Ramadhan disebut “Syahrush Shiyam” mengingat dibulan ini kita umat Islam diwajibkan
berpuasa selama sebulan penuh, tentang wajibnya Puasa ini didasarkan pada Al-qur’an,
sunnah dan ijma’ para ulama’.
Surat Al-Baqoroh Ayat 183
Artinya “Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
Surat Al-Baqoroh Ayat 185
Artinya “(beberapa hari yang ditentukan itu ialah)
bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara
kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya
itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan
hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,
supaya kamu bersyukur”
Hadits Rasulullah:
Ketika seorang sahabat bertanya: Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku puasa yang diwajibakn Allah atas diriku !jawab Rasulullah saw:”Puasa Ramadhan.” Tanya laki-laki pula:” apakah ada lagi puasa wajib atas ku?” jawab nabi nabi:”Tidak, kecuali kalau anda berpuasa sunat”.
Atas dua dasar itu sudah jelas bahwa puasa dibulan ramadhan maka semakin menyakinkan bahwa puasa dibulan Ramadhan hukumnya wajib.
Terus bagaimana jika ada orang yang megaku Islam,
namun tidak berpuasa dibulan Ramadhan tanpa ada udzur yang disyar’iatkan?
Ada ancaman yang serius bagi mereka yang meninggalkan puasa atau berbuka puasa dibulan Ramadhan.
Berdasarkan Hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Abbas r.a
“Ikatan Islam dan sendi agama itu ada tiga, diatasnya didirikan Islam dan barangsiapa meninggalkan salah satu diantaranya maka ia kafir terhadapnya halal darahnya: Mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, Sholat fardhu, dan Puasa Ramadhan.”
Jadi kita setelah mengucapkan dua kalimat syahadat pada dasarnya diri ini sudah diikat oleh Islam, dalam arti sudah dikendalikan oleh Islam, sehingga hidupnya akan terkontrol dan lurus mengikuti jalan yang benar dan dibuktikan dengan mentaati Allah SWT. jika hal ini tidak kita miliki maka kita akan menjadi liar dan tak terkendali, akhirnya menjadi terbalik perilakunya, hal-hal yang dilarang Allah SWT dikerjakan dan yang diperintah Allah SWT ditinggalkan. Seperti halnya jika kewajiban puasa dibulan Ramadhan ini ditinggalkan maka ikatan Islam akan terlepas.
Selain itu ada ancaman berdasarkan hadits dari Abu Hurairah r.a
“Siapa yang berbuka pada suatu hari dari bulan Ramadhan tanpa keringanan yang diberikan Allah Padanya. Tiadalah akan dapat dibayar oleh puasa dirinya sepanjang masa walau dilakukannya”
Hadits ini sangat jelas, bagi orang yang meninggalkan sekali saja Puasa dibulan Ramadhan dengan sadar betul dan disengaj tanpa ada Udzur yang diberikan Allah SWT (sakit: jika puasa akan bertambah parah, perjalanan jauh, hamil, haid, menyusui, orang yang sudah tua dll) maka jika puasa yang ditinggalkan sehari saja tanpa sebab-sebab itu maka selama sepanjang masa ia berpuasa sebagai gantinya, maka tidak akan terbayar atau Allah SWT tidak akan menerimannya.
Dipertegas oleh Abu Hurairah r.a.” Barang siapa yang berbuka pada satu hari dari bulan Ramadhan tanpa udzur atau sakit, maka tidaklah akan terbayar oleh puasa sepanjang masa walau dilakukannya”
Padahal puasa yang kita kerjakan ini adalah puasa yang sudah sangat ringan setahun hanya sebulan, kecuali yang ingin berpuasa lebih dari itu dan diperbolehkan puasa Dawud (sehari puasa-sehari tidak), itupun hukumnya sunnah. Selain itu fakat dari dunia kedokteran sudah mengakui manfaat bagi tubuh kita. Tidak seperti sebuah ajaran st. Columban pendiri Biara dinegara Perancis memerintahkan berpuasa setiap hari terus tanpa ada istirahat, yang jelas ketika dibandingkan dengan puasa dari syari’at Islam pasti sangat jauh Mudlorotnya.
Syari’at yang sungguh Agung ini merupakan bentuk kasih sayang rasulullah dalam perkara puasa, Beliau sendiri sering Puasa Wishol (bersambung) puasa hari berikutnya tanpa berbuka, namun Rasulullah melarang keras sahabat dan umat beliau untuk diikuti dalam hal ini.
Ummul mukminin, Aisyah ra. Berkata: Rasulullah melarang melakukan puasa wishol (bersambung) karena kasih sayang terhadap umatnya. Para sahabat berkata, engkau sendiri menyambung puasa” beliau bersabda: Keadaanku tidak sama dengan kalian. Aku diberi makan dan minum oleh Rabbku.(HR. Bukhori)
Disini Aisyah menjelaskan bahwa sebab pelarangan ini sebagi sebab kasih sayang Rasulullah kepada sahabat dan umat beliau, dan dalam perkara ini merupakan kekhususan Rasulullah saw.
Sehingga bentuk kasih sayang beliau dalam perkara puasa diwujudkan dengan disunnahkannya meyegerakan berbuka, tidak boleh menunda-nunda, dan mengakhirkan sahur. Jika hitung maka ada waktu yang agak panjang untuk berkesampatan makan dan minum.
Hadits Rasulullah “Manusia akan selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka (HR.Bukhori)
Hadits Rasulullah “Bersahurlah, karena dalam sahur itu ada berkah”(HR.Bukhori)
Oleh karena itu bagi mereka yang tidak
berpuasa tanpa udzur syar’i dengan alasan keberatan, itu adalah omong kosong
dan jelas-jelas mengingkari perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, toh diantara
mereka ada yang beralasan yang sangat nyeleneh “ saya tidak kuat puasa bukan
karena makan tapi sulit jika tidak ngopi sama merokok sehari-hari, alasan yang
justru membuat kita tertawa, naudzubillah mindzaalik” dan kita pasti bisa menilai sendiri alsan
seperti itu, yang jelas pasti tidak ada kebaikan sama sekali disis Allah SWT.
Mari kita siapkan diri, anggota keluarga kita, kita ajak anak-anak kita yang sudah terkena kewajiban puasa, bagi anak-anak kita yang belum berkewajiban berpuasa kita ajari anak-anak kita. Jangan sampai ancaman Allah SWT terhadap orang-orang yang berani tidak puasa tanpa alasan syar’ai mengenai diri kita dan keluarga kita, sehingga kita dan keluarga tergolong menjadi orang yang bertaqwa sebagaimana tujuan dari Puasa, Amin ya Robbal ‘Alamin.
Mudah-mudahan bermanfaat (Ib-far.blog)


0 komentar:
Posting Komentar